Pasang Iklan Gratis

Pengepungan oleh teroris Yahudi di Qusra masuki hari ke-10

 Pemukim Israel terus mengepung sejumlah rumah warga Palestina di Kota Qusra, selatan Nablus, Tepi Barat, selama sembilan hari berturut-turut. Aksi tersebut berlangsung di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel dan diduga bertujuan mengambil alih rumah serta tanah milik warga dan menciptakan fakta baru di lapangan.

Dilansir kantor berita WAFA, pemukim mengepung rumah milik tiga keluarga di kawasan Ras al-Ain, Qusra. Di lokasi tersebut, pasukan Israel juga dikerahkan untuk melindungi para pemukim. Warga dilaporkan dilarang mendatangi rumah mereka, sementara sebuah tenda didirikan di sekitar kawasan tersebut dengan pengawalan tentara Israel.

Sumber-sumber lokal mengatakan, upaya pemukim untuk memasuki dan mengambil alih rumah-rumah tersebut telah berlangsung hampir empat bulan. Kondisi itu membuat anggota keluarga yang terdampak harus berjaga secara bergantian selama 24 jam untuk mempertahankan rumah mereka.

Para pemukim juga berulang kali memutus aliran listrik ke rumah warga, melempari bangunan dengan batu, serta melakukan pengepungan pada sejumlah kesempatan.

Wali Kota Qusra Abdul Azim Wadi menegaskan warga yang rumahnya dikepung tetap bertahan dan bertekad untuk tidak meninggalkan kawasan Gunung Ras al-Ain. Ia mengatakan, keteguhan tersebut juga mencerminkan sikap warga Qasra secara umum dalam menghadapi rencana perluasan permukiman Israel.

Wadi mengatakan, pemerintah kota berupaya memulihkan berbagai layanan dasar ke rumah-rumah yang dikepung. Namun, serangan dan gangguan yang dilakukan para pemukim membuat upaya tersebut sulit dilakukan.

Pasukan Israel tiba saat sebuah penggerebekan militer di kota Qusra, sebelah selatan Nablus, Tepi Barat, 16 Agustus 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH)

Menurut dia, pemerintah kota tetap memberikan layanan kebutuhan pokok secara gratis kepada warga yang rumahnya dikepung. Pemerintah kota juga akan mengalokasikan anggaran untuk mendukung mereka.

"Ini merupakan kewajiban nasional," kata Wadi, seraya menekankan pentingnya memperkuat dukungan pemerintah pusat dan kerja sama dengan Qasra di berbagai sektor penting.

Pada Ahad (16/8/2026) malam, pasukan pendudukan Israel menutup sejumlah jalan yang mengarah ke kawasan Ras al-Ain. Sumber lokal menyebut sebuah buldoser Israel menutup akses jalan dengan gundukan tanah untuk mencegah warga mencapai kawasan tersebut.

Pada Kamis (13/8/2026) pagi, pasukan Israel juga memaksa penghuni dua rumah untuk meninggalkan kediaman mereka. Sebanyak 16 rumah di Qusra kemudian diubah menjadi barak militer.

Di tengah meningkatnya serangan pemukim, delegasi menteri pemerintah Palestina melakukan kunjungan ke Qusra pada Ahad. Kunjungan tersebut dilakukan atas instruksi Perdana Menteri Palestina Mohammad Mustafa untuk meninjau kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat, terutama di sektor kesehatan, air, listrik, infrastruktur, dan energi terbarukan.

Delegasi tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan seluruh dukungan yang memungkinkan guna memperkuat keteguhan warga Qusra. Dukungan itu mencakup kemudahan perizinan pembangunan di wilayah yang menjadi sasaran, peningkatan layanan kesehatan, serta penyediaan obat-obatan dan perlengkapan yang dibutuhkan tenaga medis di kota tersebut.

Qusra juga akan diprioritaskan dalam pelaksanaan proyek energi tenaga surya.

Ribuan Serangan Terjadi pada Juli

Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina mencatat pasukan pendudukan Israel dan para pemukim melakukan 2.256 serangan terhadap warga Palestina, tanah, dan properti mereka sepanjang Juli.

Refqa Hassan, seorang warga Palestina, menyaksikan para pemukim Israel mengepung rumah keluarganya selama empat hari berturut-turut di kota Qusra, sebelah selatan Nablus, pada 12 Agustus 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH)

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.458 serangan dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel, sementara 798 serangan lainnya dilakukan pemukim Israel.

Serangan paling banyak tercatat di wilayah Ramallah dan al-Bireh dengan 260 serangan. Berikutnya Nablus dengan 247 serangan, Jenin 190 serangan, Bethlehem 185 serangan, dan Hebron sebanyak 170 serangan.

Komisi tersebut menilai angka itu menunjukkan adanya koordinasi yang jelas antara kekuatan militer Israel dan kekerasan yang dilakukan para pemukim.

Menurut komisi, perlindungan dan dukungan yang diberikan militer Israel kepada para pemukim memungkinkan serangan terus meluas. Dampaknya, hasil dari serangan tersebut perlahan diubah menjadi fakta yang terus berlangsung di lapangan.

Kondisi di Qusra menjadi bagian dari meningkatnya tekanan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Pengepungan rumah, penutupan akses jalan, pengusiran warga, serta perubahan rumah menjadi pos atau fasilitas militer semakin mempersempit ruang hidup warga Palestina di tengah ekspansi permukiman Israel.

0 Response to "Pengepungan oleh teroris Yahudi di Qusra masuki hari ke-10"

Post a Comment