Mengenal data center AI Stargate milik OpenAI yang jadi sasaran militer Iran
Militer Iran baru-baru ini secara terbuka menargetkan fasilitas data center kecerdasan artifisial (AI) milik OpenAI-SoftBank, Stargate, di Uni Emirat Arab (UEA) untuk dihancurkan secara total.
Ancaman ini muncul sebagai respons atas meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan tersebut. Dalam sebuah video resmi, IRGC menyatakan bahwa infrastruktur teknologi yang memiliki pemegang saham asal AS akan menjadi sasaran serangan balasan.
"Seluruh infrastruktur informasi dan komunikasi dari perusahaan serupa di kawasan yang memiliki pemegang saham Amerika akan menghadapi kehancuran total," ujar Brigadir Jenderal Ebrahim Zolfaghari dalam video IRGC dikutip
Ancaman terhadap fasilitas Stargate di UEA ini bukan merupakan insiden pertama yang melibatkan infrastruktur teknologi global. Pada Maret lalu, serangan IRGC dilaporkan telah menyebabkan kerusakan serius pada pusat data Amazon Web Services (AWS) di Timur Tengah.
Insiden pada fasilitas AWS tersebut memicu kebakaran dan mengakibatkan pemadaman layanan digital secara massal di Dubai serta Abu Dhabi. Dampaknya, jutaan orang dilaporkan tidak dapat mengakses layanan perbankan seluler, aplikasi transportasi daring, hingga sistem pembayaran elektronik.
CEO Zephr.xyz Sean Gorman menjelaskan bahwa posisi UEA sebagai hub AI global kini berada dalam risiko besar akibat ancaman fisik maupun siber. Gangguan pada pusat data dan kabel bawah laut di pesisir Timur Tengah dapat merusak posisi strategis ekonomi kawasan secara signifikan.
Asal-usul Proyek Stargate
Di balik ancaman pihak luar tersebut, Proyek Stargate sebenarnya merupakan inisiatif pembangunan infrastruktur AI terbesar dalam sejarah AS dengan total komitmen investasi US$500 miliar atau sekitar Rp8.495 triliun. Proyek ini dijalankan melalui entitas Stargate LLC yang berbasis di Delaware.
Inisiatif ini dirancang untuk membangun jaringan pusat data nasional, dimulai dengan fasilitas unggulan di Abilene, Texas. Lokasi tersebut diproyeksikan menghasilkan daya 1,2 gigawatt, menjadikannya salah satu pusat data terbesar di dunia untuk mendukung pelatihan model AI skala besar.
Stargate menyatukan berbagai mitra finansial dan teknologi utama, termasuk SoftBank, Oracle, MGX, hingga Microsoft dan NVIDIA. CEO SoftBank Masayoshi Son bertindak sebagai chairman yang bertanggung jawab atas aspek finansial, sementara OpenAI memegang kendali operasional.
Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa proyek ambisius ini sedang mengalami hambatan internal yang serius. Kemitraan antara OpenAI, Oracle, dan SoftBank dilaporkan jalan di tempat akibat perselisihan terkait pembagian tanggung jawab dan struktur kolaborasi.
Melansir dari The Information, proyek ini belum merekrut staf maupun mengembangkan pusat data secara aktif lebih dari satu tahun setelah diumumkan. Ketegangan antar-mitra tersebut dikabarkan sudah mulai muncul sejak pertengahan tahun lalu.
OpenAI sempat mencoba membangun pusat data secara mandiri, namun gagal mendapatkan pendanaan karena model bisnisnya dianggap belum teruji oleh para kreditur. Hal ini memaksa OpenAI kembali ke meja perundingan dengan kesepakatan baru yang lebih terbatas bersama Oracle.
Kini, Proyek Stargate menghadapi tantangan ganda berupa ketidakpastian pendanaan internal serta risiko keamanan fisik di Timur Tengah. Keberlanjutan proyek ini menjadi sangat krusial bagi ambisi Amerika Serikat untuk memimpin perlombaan teknologi kecerdasan buatan umum (AGI) di masa depan.


0 Response to "Mengenal data center AI Stargate milik OpenAI yang jadi sasaran militer Iran"
Post a Comment