Italia sudah kehilangan jati diri, cukup kembali ke setelan pabrik, tak usah pakai tiki-taka
Timnas Italia dianggap sudah kehilangan jati diri sehingga perlu kembali ke setelan pabrik usai gagal tiga kali beruntun lolos ke Piala Dunia.
Hal tersebut diungkapkan oleh legenda Belanda, Ruud Gullit.
Gullit meminta Italia untuk kembali ke fondasi awal mereka sebagai tim nasional jika ingin mengembalikan kebanggaan dan harga diri.
Gli Azzurri belum lama ini telah dipastikan gagal mentas lagi di Piala Dunia.
Hajatan besar tahun ini yang dihelat di Amerika Utara harus terlewatkan oleh mereka usai kalah di final play-off zona Eropa Jalur A.
Gianluigi Donnarumma dkk. gagal mentas di Piala Dunia 2026 usai kalah via adu penalti dari Bosnia & Herzegovina.
Kegagalan itu menjadikan Timnas Italia tiga kali beruntun tak tampil di Piala Dunia.
Sebelumnya mereka sudah absen pada edisi 2018 dan 2022.
Perubahan struktural terjadi seiring dengan mundurnya Gennaro Gattuso selaku pelatih dan resign-nya presiden FIGC, Gabriele Gravina.
Tak pelak jika pemilihan presiden dan pelatih anyar nantinya akan memengaruhi masa depan Timnas Italia.
Pemilu untuk presiden PSSI-nya Italia tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni mendatang.
Diharapkan nantinya setelah ada presiden terpilih, maka allenatore juga bisa segera terkonfirmasi.
Beberapa kandidat memang sudah muncul ke permukaan sebagai calon pelatih.
Terlepas dari sosok terpilih untuk memimpin ruang ganti Timnas Italia dan gaya bermain yang dipakai, Gullit mengingatkan bahwa tim nasional mereka dikenal karena pemain bertahannya yang terbaik sebagai DNA-nya.
"Anda harus kembali ke DNA Italia, yaitu bek-bek yang tangguh, kiper-kiper yang handal, dan penyerang-penyerang yang tajam," kata Gullit, dikutip dari Sky Sports.
"Trofi terakhir yang diraih Italia sebagian besar berkat Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini."
"Itulah DNA kalian, para bek terbaik," tuturnya menambahkan.
Lebih lanjut, Ruud Gullit juga menekankan bahwa ide bermain ala tiki-taka tidak ada salahnya.
Namun, menurut mantan pemain AC Milan itu, taktik tersebut tidak semua tim bisa menerapkannya.
"Bukan berarti Anda harus bermain bertahan, tapi dulu ada Paolo Maldini di lini belakang, sementara Fabio Cannavaro memenangkan Ballon d’Or untuk Italia," ucap Gullit melanjutkan.
"Bertahan itu penting."
"Sekarang semua orang ingin bermain sepak bola tiki-taka dengan menguasai bola dari area penalti mereka sendiri."
"Akan tetapi, itu tidak cocok untuk semua orang," pungkasnya.
Gagasan soal bermain ala tiki-taka mulai mengemuka seiring nama Pep Guardiola masuk ke dalam kandidat pelatih Timnas Italia berikutnya.
Pelatih asal Spanyol tersebut dikenal sebagai salah satu genius di dunia kepelatihan berkat kesuksesannya bersama Barcelona, Bayern Muenchen, dan Man City.


0 Response to "Italia sudah kehilangan jati diri, cukup kembali ke setelan pabrik, tak usah pakai tiki-taka"
Post a Comment